Friday, November 23, 2007
Malaysia mengklaim bahwa batik adalah milik negaranya. Apakah itu yang akan terjadi pula pada batik bakaran? Itu adalah hal yang sangat ditakutkan oleh saya sendiri sebagai penulis dan orang asli bakaran serta para pengrajin batik tulis bakaran. Bagaimana tidak, batik itu sudah ada sebelum negara malaysia itu ada kok ngaku-ngaku sebagai miliknya terus mematenkannya sebagai warisan budaya negaranya. Hal itu yang paling tidak masuk akal sama sekali dan tidak mempunyai pola pikir yang rasional sama sekali.
Coba saja orang negara malaysia untuk membuat batik (solo khususnya yang mereka klaim sebagai milik mereka), kita lihat saja apa mereka mampu membuatnya? Apa mereka tidak malu kalau saja ternyata mereka tidak bisa membuat satu saja bukti bahwa itu adalah milik asli bangsa mereka.
Saat ini terdapat banayk motif batik asli Bakaran yang belum dipatenkan, bahkan diperkirakan ada sejumlah motif batik asli daerah Bakaran yang hilang. Hal ini, tentunya perlu ada perhatian pemerintah setempat dan pemerintah pusat untuk segera mematenkan, agar tidak didahului oleh pihak lain. Tapi saya rasa itu bukan masalah utama tapi harusnya kita sendiri harus sadar bahwa itu adalah warisan yang dititipkan oleh para pendahulu/pembuat batik bakaran kepada para penerusnya yaitu orang-orang pengrajin batik tulis bakaran. Toh pihak yang lain yang akan mengklaim bahwa hal itu adalah miliknya akan mengurungkan niatnya karena mereka akan malu sendiri bila itu bukanlah miliknya. Walaupun hanya orang-orang tertentu yang sangat tahu akan hal itu.
Soal pembentukkan asosisasi para pengrajin batik tulis bakaran saya sangat setuju. Tapi saya harap ini bukan hanya asosiasi saja, tapi memang ada hal nyata yang dilakukan oleh para anggota dan pengurusnya, karena ini menyangkut harga diri sebuah bangsa. Masalah modal pasti Pemda setempat ingin membantu dan memang harus membantu karena itu merupakan hal yang sangat penting.
Semoga hal yang terjadi pada batik solo tidak akan pernah sekalipun terjadi pada batik tulis bakaran.
Posted at 03:29 pm by Ordinary_Boy
Permalink
Batik Bakaran pada MTQ XXII di Pati
Tanggal 5-7 November 2007, diselengarakan MTQ XXII di Alun-alun simpang Lima Pati. Di tengah terdapat panggung dan tenda utama acara tersebut dan disamping kanan kiri terdapat stan-stan kecil yang memamerkan kerajinan-kerajinan khas daerah jawa tengah. Dan di antara stan-stan tersebut terdapat stan yang memamerkan kerajinan khusus daerah pati khususnya daerah juwana yaitu kerajinan Batik Tulis Bakaran. Disana dipamerkan berbagai macam hasil kerajinan tangan para pembatik dari desa Bakaran. Tidak lupa juga dipamerkan semua yang berhubungan dengan batik tulis bakaran diantaranya alat2 yang digunakan untuk "menulis" batik.
Posted at 03:17 pm by Ordinary_Boy
Permalink
Tuesday, October 23, 2007
Batik Bakaran,mungkin untuk beberapa atau sebagian orang masih asing dengan nama jenis batik tersebut. Batik ini adalah jenis batik tulis asli buatan orang desa bakaran. Yang jelas bukan merupakan batik cetak/sablon karena digarap langsung oleh para anggota warga asli desa bakaran dengan menggunakan perlengkapan yang tergolong masih sederhana seperti kompor kecil dan canthing.
Bakaran terbagi menjadi 2 wilayah yaitu Bakaran Kulon dan Bakaran Wetan, yang berarti adalah bagian barat dan timur. Jaraknya sekitar dua kilometer dari Kota Juwana menuju arah barat laut (Tayu). Dapat ditempuh dengan naik angkutan ataupun bus mini atau yang ingin lebih santai bisa menggunakan becak maupun andong (duduk disamping pak kusir yg sedang bekerja, mengendali kuda supaya baik jalannya).
Batik Bakaran pada jaman sebelum berbagai macam krisis dan reformasi cukup terkenal di dalam negeri maupun luar negeri tidak kalah dengan batik lain, terlihat dari cukup banyaknya pesanan batik Bakaran oleh para turis. Tapi seiring adanya perubahan yang yang terjadi pada negeri kita tercinta batik Bakaran pun merasakan dampak yang kurang baik. Hal ini sangat berpengaruh terhadap semua hal yang berhubungan dengan batik Bakaran, para pengrajinnya dan perekonomian secara umum. Mau tak mau karena memang tidak ada pilihan yang cukup menguntungkan maka kerajinan batik Bakaran pun agak menghilang dari dunia Perbatikkan Indonesia dan dunia. Tapi batik Bakaran bukan benar-benar mati total, karena mempunyai semacam Labirin(alat pernafasan ikan di dalam lumpur) yang sewaktu-waktu dapat bernafas kembali apabila telah mendapatkan ruang yang cukup untuk menghirup udara segar kesempatan untuk berkembang kembali. Dan hal ini terbukti pada sekitar pertengahan tahun 2007. Batik Bakaran mulai "thukul" (tumbuh) kembali dengan segala daya dan upaya. Hal ini dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah daerah untuk mewajibkan para PNS untuk mengenakan pakaian batik pada hari-hari tertentu. Apapun alasannya hal ini memang berpengaruh besar terhadap regeneration batik Bakaran.
Semoga dengan adanya hal tersebut dapat menghidupkan kembali gairah untuk melestarikan batik Bakaran.Amin.
Untuk informasi lengkap tentang tentang apa-apa yang berhubungan dengan batik Bakaran dapat ditanyakan disini atau hubungi saya di email saya.
Posted at 10:44 am by Ordinary_Boy
Permalink